Seputar PPSTK: Terapi Favorit Pengungsi TherFA

by Wayan Suriastini on Sunday, January 9, 2011 at 11:57pm

Latihan Voice culturing, pembudayaan suara atau TherFA—Terapi membebaskan diri dari rasa cemas tidak hanya menjadi favorit para perserta program seni memberdaya diri di Anand Ashram (anandkrishna.org), tetapi juga menjadi favorit para pengungsi korban merapi 2010.

Ketika hari kamis yang lalu  (6 Jan 2011) saya berkunjung ke rumah embah Surip (embah yang gonndoknya paling besar di dusun Ngaglik) dalam upaya agar Embah Surip dkk ( ternyata ada 4 orang yang gondok di dusun ini ) bisa mendapatkan layanan medis lanjutan yang tepat, dua orang kerabat Mbah Surip menyapa “mbak yang dulu ke Blabak (maksudnya barak pengungsian di Magelang yang pernah dikunjungi tim PPSTK di bulan November)  kan ya?, “ya”, kata saya. “Saya ikut terapi yang diberikan di sana” kata dia. Rupaya sebagian warga dusun ngaglik mengungsi ke Blabak.  “Kenapa hari minggu kemarin tidak ada terapinya mbak?” tanyak mereka.  “Ada kok anak-anak diajak menyanyi, diberikan terapi tawa dan dongeng, yang remaja juga demikian dan yang dewasa diberikan terapi pernafasan dan check kesehatan” papar saya.  “Masud saya” kata Suryani “terapi yang disuruh berteriak itu ….. (maksudnya TherFA)”.  “Oh yang itu …kita mau berikan di kunjungan ke empat nanti”, kata saya menjelaskan. “Latihan itu, hanya group mbak yang memberikan (maksudnya ppstk), saya sudah ceritain ke teman-teman saya dan mereka pada tidak ke ladang untuk ikut pelayanan kemarin”, tutur dia. “Kenapa antusias sekali dengan terapi tersebut, apa yang dirasakan?”, tanya saya. “Benar-benar bisa hilang yang ganjel-ganjel” kata mboknya. Suryani yang tergolong masih muda itu mengatakan, “rasanya plong”. Malemnya saya matur pada Pak Anand Krishna tentang kejadian ini dan permintaan mereka untuk bisa mendapatkan terapi TherFA—terapi membebaskan diri dari rasa cemas ini. Pak Anand merestui untuk diberikan di kunjungan berikutnya selain terapi singkat yang  telah direncanakan  sebelumnya dan Bapak juga berkenan memberikan petunjuk. Terima kasih Bapak

Salam Indonesia.

Link kegiatan PPSTK

 

Advertisements

“A New Christ” Sang Visioner

Posted: December 11, 2010 in Latest News

“sementara itu, setiap pendapat dan pandangan yang tidak selaras dengan pendapat dan pandangan ‘resmi’ lembaga agama yang berkuasa atau memiliki pengaruh dengan mudah dinyatakan ‘sesat’ dan ‘menyesatkan’. betapa mudahnya orang-orang dinyatakan kafir, tidak beragama dan tidak bermoral, bagaimana dengan… “(hal 96)
Demikian penggalan salah satu paragraf yang ada di buku “A New Christ” Karya Wallace D Wattles yang ditulis pada tahun 1905, buku ini diterjemahkan dan diulas dalam bahasa Indonesia oleh Penulis Produktif Bapak Anand Krishna.
Pada Jumat, 10 Desember 2010 di Universitas Kristen Duta Wacana Jogjakarta, buku ini dibahas bersama Anand Krishna (penulis buku), Dra. Pipit Darsono, M.Sc. (Dosen UKDW), Prof. Dr. Suhartono (Dosen Sejarah FIB UGM), Rm. H.J. Suhardiyanto, SJ. ( Dosen Univ. Sanata Dharma) dengan Moderator Tunggul setiawan.


Acara yang diselenggarakan atas kerjasama Anand Ashram, Kedaulatan rakyat, Gramedia Pustaka Utama, dan Universitas Kristen Duta Wacana ini dihadiri oleh ratusan audience dari berbagai kalangan dengan berbagai latar belakang agama, ras, profesi, usia,umum, mahasiswa daerah jogja dan sekitarnya.

Lewat diskusi bersama membuka wawasan untuk semakin memperkaya pandangan tentang Kristus Yesus, yang fenomenal itu. Sudut pandang baru tentang teladan Kristus yang bisa diterapkan dalam kehidupan kita, yang modern dan dinamis. Menyadarkan bahwa, teladan Kristus adalah milik siapa saja, bukan milik satu kaum, golongan, satu agama, tapi milik bersama, seluruh umat manusia. Sumbangan bagi dunia, merupakan inspirasi bagi siapa saja.

Dalam diskusi tersebut, Sesok seorang Yesus yang visioner menjadi hidup dan membumi serta sangat relevan dengan keadaan bangsa kita saat ini. Selain bisa melihat permasalahan dengan jelas, diberikan solusi yang jelas dan tegas pula.

“Perhatikanlah dagelan dunia yang penuh gemerlap….Sekarang, membungkuklah, berusahalah untuk melihat dan mendengar apa yang ada di balik semuanya, kau akan mendengar tangisan, ratapan, dan rintihan orang-orang frustasi, gelisah dan kecewa”(hal 105)
solusinya masih dihalaman yang sama,
“Dengarkanlah suara mereka yang mendambakan keadilan, dengarkan permohonan mereka untuk memperoleh kesetaraan. Itulah suara Yesus. Itulah Panggilan-Nya”

Selamat berkarya!

Berikut adalah laporan dari komunitas Pecinta Anand Ashram dari lokasi bencana Alam Merapi,

Bencana alam tak hanya menyebabkan kerugian secara material. Pikiran, emosi, dan jiwa para korban pun terguncang. Selain pemenuhan logistik dan rehabilitasi secara fisik, para pengungsi juga membutuhkan terapi pemulihan dari stres dan trauma.

Ibu Maya Safira, terapis kesehatan holistik L’Ayurveda Jakarta mengatakan bahwa gangguan stres paska trauma disebut Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Pengalaman menakutkan itu berulang secara terus-menerus (re-experience). Dalam bentuk khayalan, mimpi, halusinasi, dan flash back.

Seolah peristiwa tersebut sungguh terjadi kembali. Akibatnya, korban akan bereaksi panik seperti ketika trauma tersebut awalnya terjadi. Lama-kelamaan tekanan batin/depresi ini akan mempengaruhi kehidupan sehari-hari seseorang, termasuk anak-anak.

Sejak didirikan pada tahun 1991, Yayasan Anand Ashram (http://anandkrishna.org/english/index.php?isi=news/latest.lbi) yang didirikan oleh Bapak Anand Krishna telah memberikan pelatihan pemberdayaan diri kepada masyarakat. Tanpa menghiraukan perbedaan latar belakang agama, suku, ras, budaya, dan lain-lain. Pelatihan awal dan utama yang diberikan ialah pengelolaan stres (Stress Management).

Yayasan Anand Ashram juga ikut berkontribusi dalam penanganan stres dan trauma saat bencana alam maupun konflik buatan manusia melanda negeri ini. Misalnya kerusuhan Mei tahun 1998 di Jakarta, korban pertikaian Sampit, dll. Yakni lewat Pusat Pemulihan Stres dan Trauma Keliling (PPSTK).

Program ini dikordinasikan oleh salah satu sayap Yayasan Anand Ashram: National Integration Movement (NIM). Secara intensif turun ke desa-desa memberikan pelayanan setiap Minggu paska gempa bumi Jateng-DIY pada tahun 2006.

PPSTK Merapi

Mulai hari Minggu 31 Oktober 2010 pelayanan PPSTK lewat terapi ceria mulai diadakan kembali. Yakni bagi para pengungsi akibat letusan gunung Merapi pada 26 Oktober 2010 silam. Kemudian, akan dilanjutkan setiap Minggu berikutnya sepanjang itu masih diperlukan.

Sebelumnya, pada tanggal 29-30 Oktober 2010 telah dilakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman DIY. Diakhiri dengan rapat pada 30 Oktober 2010 bersama semua petugas kesehatan dari puskesmas-puskesmas di yang ditugaskan di seluruh barak-barak pengungsian Hargobinangun, Turi, dan Cangkringan Sleman Yogyakarta.

Pelayanan 31 Oktober 2010 dilakukan di 2 barak pengungsian di desa Girikerto. Pertama, pada pagi hari berlokasi di Balai Desa Girikerto. Kedua, pada sore hari berlokasi di SD Tanggun. Masing-masing barak menampung sekitar 400 pengungsi. Saat siang hari para bapak dan remaja laki-laki pulang ke rumah masing-masing untuk memberi makan ternak di dusun asalnya.

Memberikan pelayanan di desa-desa seperti yang PPSTK lakukan 4 tahun lalu paska gempa tahun 2006 di Jateng dan DIY sangat berbeda dengan melakukannya di barak-barak pengungsian Merapi. Sebab, penduduknya berasal dari berbagai tempat dan berkumpul di satu lokasi dalam satu ruangan yang besar.

Selain itu, tidak seperti yang menyerahkan bantuan logistik bagi pengungsi, yang di kumpulkan di posko tertentu. Dalam pelayanan ini PPSTK langsung berinteraksi dengan para pengungsi. Hal pertama yang dilakukan ialah membangun raport. Saling bertegur-sapa dengan para pengungsi.

Sebanyak 25 orang personil dari Anand Krishna Centre (AKC) Joglosemar berbagi tugas. Pada saat sejumlah relawan menyiapkan sound system, yang lainnya membangun raport dengan pengungsi. Sambil secara singkat memberitahukan kepada mereka ihwal acara yang akan dilakukan beberapa menit kemudian. Agar mereka terdorong untuk berpartisipasi.

Pada saat membangun raport, seorang teman bercerita bahwa ia berbincang dengan Mbah yang berumur 115 tahun. Beliau sudah menyaksikan gunung Merapi meletus sebanyak 6 kali, “ letusan kali inilah yang paling parah,” ujarnya. Para pengungsi umumnya merasa sedih karena ternak yang ditinggal di rumahnya kelaparan dan tidak ada yang memberi makan.

Para pengungsi menyambut kedatangan tim PPSTK dengan antusias. Mereka mengikuti lagu yang dinyanyikan dan setiap gerakan yang diperagakan. Lirik lagu-lagu bernuansakan kebangsaan mendapatkan perhatian berbagai kalangan yang ada di barak yang PPSTK kunjungi. Pengungsi menerima tim dengan senang hati dan gembira. Disela-sela terapi PPSTK juga membagikan sejumlah kaos bertuliskan, “Aku Bangga Jadi Orang Indonesia.”

Yang mengembirakan The Torch Bearers (Muda-mudi Pembawa Obor Kasih) yang dipunggawani oleh Gilang dan Mira bisa dengan cepat dan sigap memimpin jalannya terapi ceria. Kemudian Bapak Tunggul masuk pada bagian terakhir untuk memberikan 2 teknik sederhana pengeloaan stress (Stress Management). Lagu “Terajana” yang liriknya telah digubah dengan lirik kebangsaaan, “Bhineka Tunggal Ika” mengakhiri perjumpaan kami dengan pengungsi di setiap barak.

Minggu depan tanggal 7 Nopember 2010 PPSTK berencana untuk memberikan pelayanan di barak pengungsi Cangkringan. Bagi yang ingin bergabung silakan langsung ke lokasi atau bersama-sama berangkat dari AKC Joglosemar, Perum Dayu Permai P-18 Jalan Kaliurang Km. 8,5 Yogyakarta jam 08.00 WIB.

Bagi yang berminat menyampaikan kontribusi dalam bentuk donasi dan membutuhkan informasi lebih detail tentang PPSTK silakan menghubungi Ibu Wayan Suriastini: 0811266309, email: suriastini@gmail.com atau Bapak Tunggul Setiawan: 08164275432, email: dm_slash@yahoo.com

Akhir kata, terapi pemulihan stres dan trauma paska bencana ini sungguh dibutuhkan oleh para korban. Agar para pengungsi memiliki pengetahuan, kemampuan untuk mengendalikan dan mengelola stres dan traumanya secara mandiri.

Berbagi dari hal sederhana, senyum dan kebahagiaan:

Sumber: laporan dari Wayan Suriastini

Katakan dengan T(c)inta

Posted: October 19, 2010 in Latest News

Minggu 17 Oktober waktu Anand Ashram Sunter Jakarta, ada yang spesial di hari minggu, yang sempat di basahi oleh hujan sore itu.
Hal yang spesial adalah sore itu kami melihat anak-anak muda yang tergabung dalam muda-mudi Anand Ashram sedang terlihat begitu serius mengerjakan sesuatu. mengundang penasaran saya untuk ingin tahu mereka sedang mengerjakan apa?

Ah, ternyata mereka sedang mengikuti pelatihan menulis, pelatihan yang diadakan atas inisiatif mereka sendiri, untuk mereka dan juga dari mereka sendiri.
Sungguh menarik bagi saya ketika menyaksikan semangat anak-anak muda ini. Menulis adalah hal yang tidak semua orang tertarik untuk melakukannya, Tapi dari sebuah tulisanlah kita bisa mengetahui sejarah, belajar tentang ide-ide besar dan mendapatkan ilmu pengetahuan tentunya.

dari semangat anak-anak muda inilah dalam hati saya terbersit kebanggaan bahwa generasi muda harapan masa depan telah berani untuk mengambil inisiatif untuk berkarya.
Dan mari kita tunggu karya-karya besar mereka, untuk menyebarkan cinta dan semangat perdamaian, Katakanlah sesuatu melalui tinta, kabarkanlah CINTA.
salut dan bangga untuk kalian!

Seakan semangat tak pernah berhenti, setelah berlatih menulis, mereka melanjutkan dengan berlatih musik

Sore yang cerah, Oktober 15, 2010 dilapangan Hijau Kampus Al-Azhar dalam sebuah acara yang bertajuk CONCORDE (Collaboration Originality Trought Culture Odyssey). Komunitas Anand ashram diundang sebagai tamu untuk mempersembahkan Tarian Sufi, yang dikenal juga sebagai “the darvishes’ whirling”, merupakan salah satu jalan di antara banyak jalan untuk menumbuhkan rasa Kasih. Tarian ini dipopulerkan oleh kelompok Mevlevi Order yang dipimpin oleh Sang Maestro, Jalaluddin Rumi (1207-1273) ratusan tahun yang lalu. Sebagai sebuah tarian dalam sebuah pesta, SUFI MEHFIL adalah perayaan ketika seorang “pencari” bertemu “Kekasih — Kasih itu sendiri” yang ternyata berada di dalam diri.

Menurut pihak Panitia yaitu pengurus Organisasi Siswa SMA Islam Al-Azhar 1, bahwa Kegiatan ini merupakan festival budaya internasional yang menjadi wadah bagi pelajar Indonesia baik dalam maupun luar negeri, untuk memperkenalkan sekaligus mempromosikan kebudayaan milik negeranya masing-masing. Sebagaimana dilansir di Web resmi panitia.klik link
“dengan mengenal kebudayaan-kebudayaan yang unggul dari belahan dunia maka kita bisa saling belajar, khususnya bagi kami para pelajar Indonesia, sehingga kita bisa berkembang bersama untuk memajukan Indonesia dan dunia” demikian keterangan dari salah satu panitia.

Diawali dengan perkenalan singkat dari team Whirling Anand Ashram mengenai makna dari tarian yang akan dipersembahkan, kemudian dilanjutkan dengan tarian whirling sufi, disambung lagu tentang hidup damai dalam kebhinekaan, yang kemudian diisi pula oleh pembacaan puisi, membuat para penonton yang terdiri dari para siswa-siswi Al Azhar dan masyarakat umum turut merasakan keindahan dan kegembiraan yang bertemu dalam sebuah tari dan lagu.

Bagi kami adalah sebuah anugrah bisa berbagi kebahagiaan dalam semangat perdamaian. Semoga kecintaan generasi muda terhadap nilai-nilai luhur dalam budaya semakin memberikan harapan yang indah pula untuk mewujudkan perdamaian dalam satu bumi, satu langit dan satu kemanusiaan.

Ibu Pendeta Mindawati Perangin Angin dengan ditemani Ibu Maya Safira

Jumat 23 September 2010, Sore itu terasa special bagi kami komunitas pecinta Anand Ashram, Padepokan kami kedatangan Ibu Pendeta Mindawati Perangin angin Ph.D. beliau berkunjung untuk berbagi pengalaman bersama kami.

” cara kita beragama harus segera diperbaiki” demikian kalimat beliau menghentak khas cara ibu pendeta, dan selanjutnya Ibu pendeta Mindawati mengungkapkan bahwa banyak hal-hal yang harus dibenahi dalam kehidupan beragama kita,” jika sebuah lembaga agama ingin bertahan, maka harus siap mereformasi diri” demikian tambah Pendeta yang pernah menjabat sebagai Chairperson of Human Resources Development, Personnel, and Ecumenical Relation of The Karo Batak Protestant Church (GBKP – Gereja Batak Karo Protestan).

” Semangat perdamaian yang harus dikedepankan, semangat melayani sesama manusia walaupun berbeda keyakinan, dan bukan malah sebaliknya” , tambah ibu pendeta yang juga sebagai Member of Central Committee of the World Council of Churches.

Dengan gaya Khotbah yang khas dan gaya bahasa yang begitu berani, membuat kami antusias untuk menyimak dialog ini, yang lengkap dengan kelakar khas Batak  namun kritis yang membuat kami tak henti-hentinya terpingkal. Dan yang menarik adalah ketika Ibu pendeta bercerita tentang perjalanan bersama keluarga ke beberapa tempat diluar negeri, tempat yang mirip dengan Anand Ashram (interfaith, spiritual center), ” di Indonesia saya baru melihat satu yaitu disini” yang disambut tepuk tangan peserta dialog, “dan disini sangat berbeda, lebih hangat, lebih meriah” ungkap beliau ditengah-tengah cerita beliau dalam mengunjungi tempat-tempat sejenis.

Dan yang tidak kalah seru adalah ketika group musik dari Anand Ashram menggebrak dengan lagu-lagu daerah khas cara Anand Ashram diakhir acara, tiba giliran lagu Batak, ibu pendeta turut bernyanyi, dengan suara asli yang membuat pertemuan sore itu bukan sekedar dialog tapi seperti pertemuan keluarga yang semenjak lama ingin berkumpul, saling melepas rindu. Sore yang Indah di padepokan One Earth One Sky One Humankind.

Sebagaimana saya ingat dalam sebuah pertemuan Bapak Anand Krishna pernah berpesan, bahwa pertemuan dengan seseorang adalah kesempatan bagi kita untuk belajar, dengan semangat belajar maka kita membuka diri untuk setiap kebaikan.

Tak ada kalimat yang tepat selain “Sore yang Indah di Anand Ashram”

Dalam setiap kesempatan Bapak Anand Krishna selalu berpesan bahwa jangan pernah meninggalkan ajaran agama masing-masing, galilah sampai kedalaman terdalam temukan intinya dan belajarlah untuk mengapresiasi, menghormati setiap agama, “Tuhan punya tujuan engkau lahir dikeluarga beragama itu” ,demikian kurang lebihnya apa yang beliau katakan.

Adalah sebuah kesempatan yang unik ketika kami komunitas pecinta Anand Ashram berkesempatan untuk menghadiri perayaan Hari Raya Saraswati. Ini adalah sarana untuk kami belajar saling mengapresiasi, saling menghargai dan juga turut belajar mengenai makna Hari Raya Saraswati di Anand Ashram, berikut adalah catatan dari saudara Made Mulia.

Perayaan Hari Raya Saraswati ala Anand Krishna Center Denpasar

Hari Raya Saraswati tahun ini dirayakan pada tanggal 25 September 2010. Menurut perhitungan kalender Bali, hari raya ini jatuh setiap 210 hari sekali, yang jatuh pada Wuku (Watugunung) dan hari (Sabtu), yang sama. Kenapa 210 hari? Banyaknya Wuku dalam kelender Bali adalah 30 (dari mulai Sinta sampai Watugunung) dan hari adalah 7 (dari Senin sampai Sabtu).

Perayaan ala Anand Krishna Center (AKC) Denpasar sungguh unik. Uniknya apa? Sejak awal berdirinya AKC Denpasar ini, yang merupakan sayap dari Anand Ashram, selalu mengedepankan kebersamaan. Peserta meditasi yang terdiri dari berbagai latar belakang agama dan suku bangsa, tidak melihat adanya perbedaan diantara mereka. “Apapun Agamamu, Apapun Sukumu, Kau orang Indonesia”

Kembali kepada uniknya perayaan ini. Masing-masing perwakilan agama membacakan ayat-ayat suci mereka yang terkait dengan ilmu pengetahuan. Dari mulai Musllim, Krsiten, Hindu dan Buddha.

Saraswati adalah dewi ilmu pengetahuan. Ilmu Pengetahuan bukanlah milik sebuah agama tertentu. Ilmu pengetahuan termasuk teknologi bisa dikuasai oleh siapa saja. Dan, Saraswati adalah Dewinya. Menurut artitikel yang ditulis oleh Bapak Anand Krishna dalam The Bali Times beberapa waktu yang lalu, dengan mengagungkan Saraswati berarti mendapatkan segalanya. Sederhananya, All in One. Saraswati tidak hanya memberikan pengetahuan saja, tetapi juga, kesejahteraan, kebijaksanaan, kesenian, kesucian lahir batin dan sebagainya.

Selesai pembacaan ayat-ayat suci dari masing-masing agama, acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu-lagu pujian kepada Tuhan. Tak lupa sharing dari peserta yang hadir dan diakhiri dengan santap malam bersama.

Marilah kita belajar bersama, berkarya bersama semoga Tuhan Yang Maha Mengetahui sumber dari segala pengetahuan memberkahi kita semua, dan kita diberikan jalan yang terang untuk mewujudkan Kedamaian yang berawal dari dalam diri, sehingga bisa berbagi Cinta kepada semua untuk keharmonisan bersama.

25 September 2010

sumber : note Made Mulia